Eropa Waspadai Ancaman Rusia dan Tiongkok, Bukan Trump

BRUSSEL — Hubungan Eropa dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump perlahan menemukan titik keseimbangan, namun para diplomat benua biru justru

Eropa Waspadai Ancaman Rusia dan Tiongkok, Bukan Trump

BRUSSEL — Hubungan Eropa dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump perlahan menemukan titik keseimbangan, namun para diplomat benua biru justru diingatkan bahwa tantangan terbesar dalam 12 bulan ke depan datang dari Moskow dan Beijing, bukan dari Washington.

Pernyataan itu disampaikan Mujtaba Rahman, Managing Director Eurasia Group untuk urusan Eropa, saat berbicara di hadapan lebih dari 100 duta besar Eropa dalam pertemuan yang membahas tantangan besar yang menghadang benua itu pada tahun ini dan tahun depan. Pesan utamanya berbunyi kontraproduktif bagi banyak diplomat: Eropa terlalu fokus pada riak hubungan transatlantik, sementara ancaman yang lebih mendesak justru tumbuh di timur.

Washington Bukan Lagi Ancaman Utama

Memang, hubungan Eropa dengan Amerika Serikat tetap jauh dari kata mulus. Presiden Trump telah melemahkan kepercayaan terhadap NATO, memicu ketegangan perdagangan transatlantik baru, dan menambah ketidakpastian pada berbagai isu, mulai dari dukungan AS terhaduk Ukraina hingga keinginannya mencaplok Greenland. Ancaman tarif terbaru Trump atas pendekatan Uni Eropa terhadap Kanada kembali menegaskan bahwa ketegangan itu belum berakhir.

"Mungkin terdengar paradoks, tetapi tantangan eksternal terbesar Eropa dalam 12 bulan ke depan akan datang dari Rusia dan Tiongkok, bukan dari Amerika Serikat," ujar Mujtaba Rahman di hadapan para duta besar.

Namun secara paradoks, dan terlepas dari ancaman tarif terbaru itu, hubungan transatlantik justru menjadi bagian yang lebih stabil dari lingkungan eksternal Eropa. Bukan stabil, melainkan lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Formulasi itu penting: Eropa tidak sedang menikmati ketenangan, melainkan sekadar memilih mana badai yang paling dahsyat.

Rusia dan Tiongkok di Depan Mata

Fokus ulang ke timur ini didorong oleh beberapa perkembangan strategis yang tak bisa diabaikan. Di satu sisi, agresi Rusia terhadap Ukraina terus menguji solidaritas Eropa, kekuatan militernya, serta pasokan energi dan anggaran pertahanan negara-negara anggota. Di sisi lain, Tiongkok semakin agresif menata pengaruh ekonomi dan teknologinya di pasar Eropa.

  • Rusia: tekanan militer dan hibrida yang terus menguji solidaritas NATO serta kesediaan Eropa membiayai pertahanan jangka panjang.
  • Tiongkok: penetrasi pasar, ketergantungan rantai pasok, dan persaingan teknologi yang semakin tajam.
  • AS: hubungan yang sulit, namun relatif dapat diprediksi dan mulai menemukan pola baru.
  • Internal: gelombang populisme yang bisa mengubah arah kebijakan luar negeri Eropa dalam semalam.

Skenario Le Pen dan Eropa yang Rapuh

Pertanyaan yang mengemuka dari analisis Rahman adalah hal yang lebih menakutkan: bagaimana Eropa menghadapi Rusia dan Tiongkok andai politik domestik berubah drastis, misalnya jika Marine Le Pen berkuasa di Prancis? Dalam skenario semacam itu, kebijakan luar negeri benua biru bisa mengalami pergeseran besar, sementara ancaman dari Moskow dan Beijing justru semakin nyata.

Para duta besar kini dihadapkan pada pilihan strategis: membangun kemandirian pertahanan dan ekonomi Eropa sambil menjaga aliansi dengan Washington tetap berfungsi. Stabilitas yang relatif dengan AS, menurut Rahman, harus dimanfaatkan sebagai ruang bagi Eropa memperkuat diri menghadapi dua kekuatan yang lebih sulit dinegosiasikan.

Pesannya jelas: Trump mungkin menarik perhatian, tetapi segera setelah itu, ia bisa jadi masalah paling kecil yang dimiliki Eropa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User