Nov 04, 2026
World

Israel Kuasai Pusat Pelatihan UNRWA di Pinggiran Yerusalem Timur

YERUSALEM TIMUR — Pasukan Israel pada Selasa menguasai sebuah pusat pelatihan kejuruan yang dikelola oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di ka

Israel Kuasai Pusat Pelatihan UNRWA di Pinggiran Yerusalem Timur

YERUSALEM TIMUR — Pasukan Israel pada Selasa menguasai sebuah pusat pelatihan kejuruan yang dikelola oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di kawasan pinggiran Yerusalem Timur, dalam langkah terbaru yang menyasar organisasi tersebut. Aksi ini langsung memicu kecaman keras dari Sekjen PBB Antonio Guterres serta mempertegas ketegangan antara Israel dan lembaga kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pusat pelatihan Qalandia itu telah berdiri sejak tahun 1952 dan setiap tahunnya memberikan pendidikan vokasional bagi sekitar 340 warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki. Kini masa depan ratusan pelajar dan tenaga kerja muda Palestina menggantung akibat pengambilalihan tersebut.

Kronologi Pengambilalihan Pusat Pelatihan

Berdasarkan laporan yang dirangkum dari kantor berita internasional, rangkaian peristiwa berlangsung sebagai berikut:

  1. Minggu-minggu sebelum penyerbuan: UNRWA menerbitkan peringatan resmi bahwa otoritas Israel tengah mengancam eksistensi pusat pelatihan Qalandia, yang menjadi satu-satunya fasilitas vokasi milik badan tersebut di wilayah Yerusalem.
  2. Selasa pagi: Pasukan Israel memasuki kompleks pusat pelatihan di pinggiran Yerusalem Timur dan mengambil kendali atas fasilitas yang telah beroperasi lebih dari tujuh dekade.
  3. Usai penyerbuan: UNRWA mengonfirmasi pengambilalihan itu dan mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran atas status organisasi PBB.
  4. Hari yang sama: Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan kecaman resmi atas aksi tersebut dan menyerahkan perlindungan fasilitas PBB.

Peringatan yang Terlewat

Penyerbuan ini bukan peristiwa yang datang tanpa aba-aba. UNRWA sebelumnya telah menegaskan bahwa otoritas Israel secara eksplisit mengancam keberadaan pusat pelatihan Qalandia. Namun, peringatan tersebut tidak membuahkan hasil, dan fasilitas yang menjadi tulang punggung pelatihan kerja bagi pemuda Palestina itu akhirnya direbut paksa.

"Kami telah memperingatkan bahwa otoritas Israel mengancam pusat pelatihan kami di Qalandia. Fasilitas ini melayani sekitar 340 siswa Palestina dari Tepi Barat setiap tahun," demikian pernyataan yang dilansir dari kalangan UNRWA.

Pusat pelatihan tersebut menawarkan berbagai program kejuruan yang memungkinkan generasi muda Palestina memperoleh keterampilan teknis untuk bersaing di pasar kerja. Bagi banyak keluarga di Tepi Barat, fasilitas ini adalah jalan keluar dari keterbatasan ekonomi yang parah akibat pendudukan jangka panjang.

Kecaman Sekjen PBB Antonio Guterres

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dengan cepat menyuarakan penolakannya atas aksi militer Israel terhadap aset Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kondemnasinya menegaskan posisi PBB bahwa fasilitas milik badan khusus PBB harus dihormati statusnya oleh semua pihak, termasuk negara anggota seperti Israel.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam keras pengambilalihan pusat pelatihan UNRWA dan menyebut aksi tersebut sebagai langkah yang memperburuk kondisi kemanusiaan rakyat Palestina.

Guterres berulang kali menyoroti tekanan yang dialami UNRWA dalam beberapa waktu terakhir. Organisasi itu digambarkan sebagai lembaga yang "terhimpit" atau beleaguered, menghadapi pembatasan operasional, tekanan politik, hingga tindakan fisik terhadap fasilitas-fasilitasnya.

Tekanan Berkepanjangan terhadap UNRWA

UNRWA atau United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East didirikan untuk melayani pengungsi Palestina di wilayah operasinya, mencakup layanan pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel meningkatkan upaya untuk membatasi aktivitas badan tersebut, dengan dalih berbagai kontroversi yang dibantah keras oleh PBB.

Pengambilalihan pusat pelatihan Qalandia dinilai para pengamat sebagai eskalasi signifikan karena menyasar sektor pendidikan vokasional—layanan yang paling langsung menopang kemandirian ekonomi rakyat Palestina. Berikut dampak-dampak utama yang dikhawatirkan:

  • Ratusan siswa kehilangan akses terhadap pendidikan kejuruan gratis yang telah mereka tempuh.
  • Efek berantai ekonomi, karena lulusan pusat ini umumnya menjadi tenaga terampil di berbagai sektor di Tepi Barat.
  • Preseden berbahaya bagi keberlangsungan fasilitas PBB lainnya di wilayah pendudukan.
  • Memburuknya relasi antara Israel dan sistem PBB, yang semakin renggang sejak perang di Gaza meletus.

Apa Kata Dunia dan Langkah Selanjutnya

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi apakah pasukan Israel akan tetap menduduki kompleks tersebut ataukah fasilitas akan dikembalikan kepada pengelolaan UNRWA. Yang pasti, komunitas internasional kini menaruh perhatian besar pada nasib pusat pelatihan yang telah melayani rakyat Palestina selama lebih dari tujuh puluh tahun ini.

Bagi para siswa yang tengah menjalani pelatihan, kejutan Selasa itu bukan sekadar isu diplomatik. Mereka kehilangan ruang belajar, alat praktik, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Sementara itu, UNRWA menegaskan akan terus memperjuangkan haknya untuk beroperasi sesuai mandat PBB, meski tekanan dari otoritas Israel dipastikan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Pengambilalihan ini juga menjadi ujian nyata bagi komunitas internasional: apakah kecaman verbal semata cukup, atau akan ada tindakan konkret untuk melindungi misi kemanusiaan PBB di wilayah Palestina yang diduduki. Jawabannya akan menentukan arah operasi kemanusiaan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam bulan-bulan mendatang.

[SOCIAL_TWEET]: PASUKAN ISRAEL kuasai pusat pelatihan kejuruan UNRWA di Yerusalem Timur! Sekjen PBB Antonio Guterres kecam keras aksi tersebut. Fasilitas sejak 1952 ini melayani ±340 siswa Palestina tiap tahun. #Israel #UNRWA #Palestina[SOCIAL_TG]: 📰 ISRAEL KUASAI PUSAT PELATIHAN UNRWA — Pasukan Israel mengambil alih pusat pelatihan kejuruan UNRWA di pinggiran Yerusalem Timur, Selasa. Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam keras. Fasilitas berdiri sejak 1952, melayani ±340 siswa Palestina/tahun. Baca detailnya di Rakyat Massa International.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll